Category: Dinamika Kehidupan Kampus


Bismilahirrahmanirrahim,
(Dengan Menyebut Nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang)

Hanya itu kata yang terucap
Sebelum berangkat
Menuju medan perang secara hakikat…

Alhamdulilahirobil’alamin,
(Segala Puji Bagi Allah Tuhan Semesta Alam)

Hanya itu yang mampu dikatakan
Ketika Kau masih beri kesempatan
‘tuk rasakan Perjuangan Panjang…

Mohon Maaf atas segala khilaf,
Dari lubuk hatiku yang paling dalam
Pada semua, baik ucapan maupun perbuatan

Ini bukan sekedar pengharapan,
Nilai akhir hanyalah hasil tapi bukan tujuan
Tujuannya hanya untuk ibadah pada Sang Pemberi Harapan

Maafku semata mungkin terlalu kecil bagimu
Tapi tidak untukku…
Bukan materi atau yang lain yang kuharap darimu
Cukuplah kata maaf & ridhomu atas segala khilafku

Bukan doa untuk kelancaran&kemudahan dalam TA-ku
Tapi doa untuk kekuatanku menjalani terjalnya cobaanNya yang kuharapkan darimu
Karena semakin mudah cobaanNya, maka semakin lemah imanku
Dan ku tak mau itu…

Bukan doa untuk hasil yang sesuai harapanku, yang kuinginkan
Tapi doa untuk hasil yang sesuai kebutuhanku, yang kumau
Karena Allah tidak memberikan apa yang kita harapkan, tapi apa yang kita butuhkan
Namun alangkah indahnya jika kebutuhanku sesuai dengan harapanku…
Tuhan, aku rindu itu…

Rabb, luruskan niatku…
Jangan biarkan ketakutan menenggelamkan imanku
Yakinkan diriku, bahwa nilai bukanlah kepentinganku
Tapi bagaimana membuat ilmu yang tlah Kau titipkan padaku,
Dapat bermanfaat untuk orang-orang sekitarku

Kawan, maafkan aku…atas semua khilafku
Semuanya…semuanya …tanpa terkecuali…

“MENGUTIP DARI MILIST SEBERANG”…

Alkisah, lelaki dan perempuan yang begitu berkomitmen dengan agamanya.
Melalui perkenalan (ta’aruf) yang singkat dan hikmat, mereka memutuskan untuk melanjutkannya menuju lamaran (khitbah).

Sang lelaki, sendiri, harus maju menghadapi lelaki lain yakni ayah sang perempuan.
Hal ini, merupakan tantangan yang sesungguhnya bagi lelaki tersebut. Memang sebelumnya ia telah melewati deru pertempuran semasa aktivitasnya di kampus, tetapi pertempuran yang sekarang amatlah berbeda karena menentukan masa depannya….

Sang perempuan, tentu saja siap membantunya. Memuluskan langkah mereka tuk menggenapkan agamanya.

Maka, di suatu pagi, di sebuah rumah, di sebuah ruang tamu, seorang lelaki muda menghadapi seorang lelaki setengah baya (ayah sang perempuan), untuk ‘merebut’ sang perempuan muda, dari sisinya.

“Oh, jadi engkau yang akan melamar itu?” tanya sang lelaki setengah baya.
“Iya, Pak,” jawab sang muda.

“Engkau telah mengenalnya dalam-dalam? ” tanya sang setengah baya sambil menunjuk si perempuan.
“Ya Pak, sangat mengenalnya, ” jawab sang muda, mencoba meyakinkan.
“Lamaranmu kutolak. Berarti engkau telah memacarinya sebelumnya kan? Tidak bisa
Aku tidak bisa mengijinkan pernikahan yang diawali dengan model seperti itu!” balas sang setengah baya.

Si pemuda tergagap, “Enggak kok pak, sebenarnya saya hanya kenal sekedarnya saja, ketemu saja baru sebulan lalu.”
“Lamaranmu kutolak. Itu seperti ‘membeli kucing dalam karung’ kan? aku takmau kau akan gampang menceraikan anakku karena kau tak mengenalnya. Jangan-jangan kau nggak tahu aku ini siapa?” balas sang setengah baya dengan keras.

Ini situasi yang amat sulit bagi sang pemuda. Sang perempuan pun mencoba membantu sang lelaki muda.

Bisiknya, “Ayah, dia dulu aktivis lho.”
“Kamu dulu aktivis ya?” tanya sang setengah baya.
“Ya Pak, saya dulu sering memimpin aksi demonstrasi di Kampus,bahkan digedung dewan pak” jawab sang muda dengan percaya diri.
“Lamaranmu kutolak. Nanti kalau kamu lagi kecewa dan marah sama istrimu, kamu bakal mengerahkan rombongan teman-temanmu untuk mendemo rumahku ini kan?”
“Anu Pak, nggak kok. Wong dulu demonya juga cuman kecil-kecilan. Banyak yang nggak datang kalau saya suruh berangkat, susah sekali lho pak”
“Lamaranmu kutolak. Lha wong kamu ngatur temanmu saja nggak bisa, kok mau ngatur isterimu, keluargamu, piye tho?”

Sang perempuan membisik lagi, membantu, “Ayah, dia pinter lho.”
“Kamu lulusan mana?” tanya sang lelaki setengah baya.
“Saya lulusan ITB Pak. ITB itu salah satu kampus terbaik di Indonesia lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu sedang menghina saya yang cuma lulusan STM ini tho? Menganggap saya bodoh kan?”
“Enggak kok Pak. Wong saya juga nggak pinter-pinter amat Pak. Lulusnya saja hampir tujuh tahun, IP saya juga cuman dua koma kok Pak.”
“Nah itu lah lamaranmu ya kutolak! Kamu saja bego gitu gimana bisa mendidik anak-anak dan isterimu kelak?!”

Bisikan itu datang lagi, “Ayah dia sudah bekerja lho.”
“Jadi kamu sudah bekerja?” tanya sang lelaki setengah baya
“Iya Pak. Saya bekerja sebagai tenaga marketing. Keliling Indonesia, bahkan luar negeri untuk jualan produk saya Pak.”
“Lamaranmu kutolak! Kalau kamu keliling dan jalan-jalan begitu, kamu nggak bakal sempat memperhatikan keluargamu nanti”
“Mmmmhh….anu kok Pak. Kelilingnya jarang-jarang. Wong produknya saja nggak terlalu laku.”
“Lamaranmu tetap kutolak. Lha kamu mau kasih makan apa keluargamu, kalau kerja saja nggak becus begitu?”

Bisikan kembali, “Ayah, yang penting kan ia bisa membayar maharnya.”
“Rencananya maharmu apa?” tanya sang ayah
“Seperangkat alat shalat Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kami sudah punya banyak. Maaf sekali!”
“Tapi saya siapkan juga emas satu kilogram dan uang limapuluh juta Pak.” balas sang pemuda
“Lamaranmu kutolak. Kau pikir aku itu matre, dan menukar anakku dengan uang dan emas begitu? Maaf anak muda, itu bukan caraku.”

Bisikan, dari sang perempuan, “Dia jago IT lho Pak”
“Kamu bisa apa itu, internet?” tanya sang ayah
“Oh iya Pak. Saya rutin pakai internet, hampir setiap hari lho Pak saya nge-net biar gak mati gaya”
“Lamaranmu kutolak. Nanti kamu cuma nge-net thok tiap hari didunia maya. Menghabiskan anggaran tuk internet dan nggak ngurus anak istrimu di dunia nyata.”
“Tapi saya ngenet cuma ngecek imel saja kok Pak.” tandas sang pemuda
“Lamaranmu kutolak. Jadi kamu nggak ngerti Friendster, Facebook, Blog, Twitter, Youtube? Aku nggak mau punya mantu gaptek gitu ahh”

Bisikan, “Tapi Ayah…”
“Kamu kesini tadi naik apa?” tanya sang ayah
“Mobil Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu mau pamer tho kalau kamu kaya. Itu namanya Riya’. Nanti hidupmu juga bakal boros. Harga BBM kan makin naik.”
“Anu e pak saya cuma mbonceng mobilnya teman kok. Saya belum bisa nyetir soalnya hehe”
“Lamaranmu kutolak. Lha nanti kamu minta diboncengin sama istrimu? Ini namanya payah. Memangnya anakku supir?”

Bisikan, “Ayyahh..”
“Kamu merasa ganteng ya?”
“Nggak Pak. Biasa saja kok”
“Lamaranmu kutolak. Mbok kamu ngaca dulu sebelum melamar anakku yang cantik ini.”
“Tapi pak, di kampung, sebenarnya banyak pula yang naksir sy lho Pak.”
“Lamaranmu kutolak. Kamu berpotensi playboy. Nanti kamu bakal selingkuh!”

Sang perempuan kini berkaca-kaca, “Ayahhh, tak bisakah engkau tanyakan soal agamanya, selain tentang harta dan fisiknya?”
Sang setengah baya menatap wajah sang anak, lalu menatap sang muda yang sudah menyerah pasrah.
“Nak, apa adakah yang engkau hapal dari Al Qur’an dan Hadits?”
Si pemuda telah putus asa, tak lagi merasa punya sesuatu yang berharga.
Soal ini pun ia menyerah agak putus asa, jawabnya, “Pak, dari tiga puluh juz saya cuma hapal juz ke tiga puluh, itupun yang pendek-pendek saja. Hadits-pun cuma dari Arba’in yang terpendek pula.”
Sang setengah baya tersenyum
“Lamaranmu kuterima anak muda. Itu cukup. Kau lebih hebat dariku. Agar kau tahu saja, membacanya saja pun, aku masih tertatih.” komentar sang setengah baya

Maka mata sang lelaki muda pun ikut berkaca-kaca rasa bahagia….. …..

Perjalanan kehidupan pun berlanjut…

Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah,niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya.
Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang
(An-Nahl QS 16:18)

DSC01803siang itu, lagi-lagi seperti biasanya…aku langkahkan kaki ini menuju kampus ITS tercinta…lab PSMI lebih tepatnya.

ya, setiap kamis jam 11 selalu ada rutinitas wajib, yaitu rapat lab…kalau telat ada punishment tersendiri…ngepel lantai atau bayar denda 20.000! mungkin bukan itu yg kutakutkan untuk menghadiri setiap rapat tepat waktu, akan tetapi lebih kepada amanah ini kepada Allah, dimana aku tidak mau melanggar komitmen ku sendiri terhadap lab…karena komitmen adalah tak ubahnya seperti janji kita kepada Allah…Disamping itu, aku juga tidak mau menzalimi rekan-rekan asisten yang lain…karena dengan ada yg terlambat, maka rapat mungkin akan tertunda, sehingga itu merugikan asisten2 yang lain yg sudah datang tepat waktu…

seperti biasanya, rapatpun dimulai…disela-sela keseriusan…selalu terdapat tawa-canda riang antara kita…namun lagi2…tawa-canda yang dibuat, selalu disertai atas dasar penghinaan terhadap rekan yang lain. ada yang tertawa lepas terbahak-bahak, mungkin ada juga yang perih sakit hati atas bercanda yang berlebihan tersebut…

pantas Rasul dan sahabat2nya ketika bercanda tidak pernah sampai memperlihatkan 2 gigi depannya…”sempat suatu ketika sahabat bercanda hingga tertawa lepas, akhirnya secara spontan Rasul memukul perutnya dan menegurnya secara langsung untuk segera menghentikan bercandanya”…ini semua agar tidak ada yang merasa sakit hati atas bercandaan seperti itu…

yang paling tidak kumengerti…KENAPA BAHAN BERCANDAAN SESEORANG SELALU MENGHINA ORANG LAIN ??

yang paling tidak kupahami…KENAPA BERCANDAAN KALIAN SELALU MENYINGGUNG FISIK/KEMAMPUAN INTELEKTUAL SESEORANG (LEMOT) ??? betapa sempurnakah kalian sehingga dengan bangganya menghina orang lain tanpa memperhatikan diri sendiri ???

yang paling tersakiti…KENAPA BERCANDAAN KALIAN MENGATASNAMAKAN AGAMA ??? betapa berharganya agama diatas segalanya…dan betapa hinanya diri kita jika mengatasnamakan agama dalam bercanda ???

ini semua adalah pendangkalan aqidah kita selama ini…

jadi, untuk semua aku cuma berharap tidak ada lagi yang tersakiti karena bercandaan sepele kalian…

PSMI bukan lab seperti itu…yg aku tahu, selama ini PSMI terkenal untuk orang2 yg memiliki intelektualitas tinggi, religius, agamis…bukan saling menghina…karena semakin menghina seseorang, semakin hina-lah mulut kita…

wassalam…

wahai pujaanku…

kemanakah datangnya malam,
seakan selalu kau yang kupikirkan…

kemanakah datangnya siang,
hanya dirimu yang menemaniku…

di sela-sela liburku,
hanya kau yang mengisi hari-hariku…

di tiap butiran tasbihku,
kusisipkan namamu di doaku…

ingin rasanya,
ku miliki dirimu…
menjadi hakku seutuhnya…

kesabaran ini,
mencabik diriku…
seakan ku dikejar waktu…
untuk menjadikan dirimu sempurna…
seperti yang kuinginkan…

agar dapat kubawa dirimu,
dirumahku…dikamarku…
kemana saja aku mau…

Wahai Laporan Tugas Akhirku !!!

stress

pemilu

Indonesia merupakan negara demokrasi dimana berdasarkan dari, oleh, dan untuk rakyat. Hal ini diterapkan sejak Indonesia merdeka, tepatnya pada tanggal 17 agustus 1945 berdasarkan UUD’45 dan Pancasila. Dalam pergerakannya, Indonesia telah melaksanakan sistem demokrasi melalui pemilihan umum.

Pemilihan umum adalah indikator proses pencapaian sistem demokrasi di Indonesia. Pemilihan Umum yang dilaksanakan di Indonesia sebanyak 9 kali dari tahun 1955 hingga 2004. Berbagai kajian politik dilaksanakan untuk mencapai kesempurnaan konseptual dari sistem pemilu agar mencapai sistem demokrasi yang sesuai. Namun dalam pelaksanaannya, pemilihan umum belum dilaksanakan secara efektif dan efisien. Terdapat hal-hal mendasar yang menjadi hambatan untuk mencapai sistem demokrasi yang diharapkan. Hal inilah yang akan ditelusuri hingga dapat diketahui critical problem tentang permasalahan yang menimbulkan pemilihan umum belum dapat termaksimalkan hingga sekarang.

Dengan menggunakan analisis SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threats), ditelusuri kekurangan, kelebihan, peluang, dan ancaman yang terjadi pada pemilihan umum selama ini di Indonesia. Sehingga dapat dijadikan dasar untuk meng-generate konsep ideal dari pemilu itu sendiri agar lebih efektif dan efisien dalam masa penerapannya. Barulah kemudian dianalisis gap yang terjadi untuk mencari critical problem yang selalu ada dan menjadi hambatan dalam proses pemilu di Indonesia.

Berdasarkan analisis, maka dapat disimpulkan bahwa critical problem yang terjadi pada pemilu selama ini adalah permasalahan pada sistem filterisasi dan sosialisasi. Dimana pada sistem filterisasi, seharusnya dilakukan mekanisme penilaian oleh dan pada seluruh elemen terkait serta berdasarkan rekam jejak dari partai politik yang ingin mendaftarkan dirinya pada pemilu. Selain itu, juga dibutuhkan proses sosialisasi yang jelas berdasarkan tingkatan segmentasi masyarakat. Sosialisasi yang tepat adalah sosialisasi dengan berdeasarkan segmentasi masyarakat, serta berkelanjutan dengan berupa pengabdian masyarakat, pembuktian partai, dan lain-lain.

assalamu’alaikum Wr. Wb.

Tahun I kuliah
dari awal masuk, mindset pengkaderan sudah ada dibenak tiap mahasiswa baru, begitu juga saya pribadi…
Namun sebelum itu, mayoritas pasti terkesima dengan ESQ dengan menggunakan konsep keTuhanan dan pengorbanan orangtua sebagai tema untuk mendidik kita…
Lanjut ke pengkaderan, tiap pagi2 sekali, banyak gundul2 dgn pakaian putih bersih bercelanakan jeans, yang cewek kepang dua berlarian menuju jurusan masing2 dengan perasaan tidak karuan…

kulihat panitia sudah standby, dimesin dengan jaket merahnya, di TI dengan jaket Ungunya, dll…

benar2 pengkaderan yang tak terlupakan…

namun, ada jg perasaan bangga bisa masuk ITS…setiap malam sebelum kuliah, kubaca buku2 kuliah dengan senangnya…berharap study oriented agar tidak mengecewakan orang tua…kala itu…

Tahun II kuliah
g’terasa sudah 1 tahun berada di TI-ITS…masa pengkaderan sudah terlampaui…sejak itu, ada niatan untuk menjadi pengkader…ada juga niatan untuk menjadi pengurus HMTI…akhirnya pun keterima di PSDM…subhanallah, amanah yang mungkin takkan terlupakan…astaghfirulla

h, cobaan yang siap menerkam kala waktu tlah tiba…
disaat libur panjang, kami rapat tiap hari, dari pagi hingga malam kurang lebih selama 2 bulan untuk merapatkan barisan, mempersiapkan pengkaderan panjang untuk maba 2007…bismillah…

ketika kampus menjelang malam, masih banyak mahasiswa yang berkeliaran….

kuliah pun sedikit terbengkalai…namun alhamdulilah masih dalam taraf yang wajar…

Tahun III
saya pun menjadi “dijebak” kahima terpilih untuk menjadi fungsionaris HMTI…ada rasa haru, ada rasa biru…ada suka ada suka, ada kelam ada terang…subhanallah, untuk kenangan yang tak terlupakan. alhamdulilah, untuk saudara seperjuangan. astaghfirullah, untuk kuliah yang berceceran..

siang, kuliah…malam rapat…kala itu, suasana malam menjadi semakin sunyi…adanya jam malam semakin mengkhawatirkan para asisten lab untuk “ngendon” di lab…main kucing2an pun tak terelakkan…namun, bagi yang study oriented benar2 terasa aman atas adanya jam malam…

kenangan yang terlalu berharga untuk dilupakan…sebuah memori yang lebih indah jika dibandingkan dengan IP cumlaude, namun setelah kuliah selalu menikmati tidur siang, dan malamnya belajar…

tanpa pernah :
sempat terlihat SKK kejar2an dengan maling, sempat melihat BEM ITS lagi aksi, sempat melihat sepinya pemira, sempat melihat panitia dimarahi karena berkegiatan ampe larut malam, sempat diusir SKK, sempat berkeringat berjuang bersama di kepanitiaan hingga titik darah penghabisan, sempat merasakan indahnya kebersamaan dalam acara tahun baru, begadang ringan, makan2, dll…

walau IP turun…agaknya menjadi tidak terlalu penting ketimbang suasana yang teralami di tahun ketiga ini…

Tahun IV
apa yaaaaa ???

biar waktu yang menjawabnya
ku kan DIAM TANPA KATA, SEBUAH KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN…
Takkan pernah ku MENGHAPUS JEJAKMU, WALAU HABIS TERANG…
namun semua itu, TAKKAN ADA YANG ABADI…

wass…