Cinta . . .

Dimanakah ia berada ?
Apakah terletak pada untaian kata
Dalam bait puisi dari seorang pujangga ?

Ataukah layaknya bunga sakura
Kala musim semi tiba ?

Namun . . .

Bukankah itu semua kan menjadi fana
Tatkala tiba waktunya ?

Lalu,

Mengapa tak kau ratakan kening saja
Dalam hamparan sajadah panjang

Dan . . .

Seraya menguntai doa untuk kekasih tercinta
Diiringi sejuknya air mata penghapus dosa ?

Hidup memang penuh dengan goresan warna
Gelisah, duka dan air mata
Juga menjadi lukisanNya

Jikalau . . .

Rasa itu masih saja
Menghuni rongga hati menghentak dada,
Cobalah melihat keindahan alam semesta
Seraya tafakur mendekatkan diri pada Sang Pemilik Cinta

Bila malam semakin malam . . .

Sgala makhluk beranjak kepembaringan,
Sbagian yang lain larut dalam
Gelapnya dunia malam yang hingar,
Disaat itulah pada Hamba yang salih
Berjingkat dalam diam, basahi tubuh dengan wudhu,

Lalu . . .

Tumpas dalam penghambaan yang sungguh dalam
Begitu dalam
Begitu dalam…

Menunggu . . .
Memang melelahkan,

Namun . . .
Apa artinya cinta ?
Jika membuat hati gundah gulana

Dan . . .

Melunturkan aQidah

Duhai jiwa . . .

Mengapa tak kau nantikan saja kedatangannya
Berkeretakan kencana bertakhtakan emas permata
Di surgaNya
Dengan persaksianNya ?